Selasa, 02 Oktober 2012
Geng motor butuh bimbingan bukan kekerasan
Palu (ANTARA News) - Sejumlah pengguna kendaraan di perempatan Jalan Gatot Subroto di Kota Palu mendadak bingung karena lampu pengatur lalu lintas mati.
Lampu lalu lintas berwarna gelap semua sehingga pengendara jalan bingung, mau berhenti atau terus melaju.
Kondisi itu tentu saja membahayakan bagi sesama pengguna kendaraan karena bisa terjadi kecelakaan akibat lampu pengatur lalu lintas (traffic light) yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Contoh tersebut hanya menggambarkan satu lokasi di Kota Palu, masih ada tiga perempatan lagi yang lampu pengatur lalu lintasnya mati karena dirusak oleh sekelompok orang.
Kerusakan itu berupa lampu pecah seperti bekas dilempar, dipukul benda keras serta, atau bekas congkelan.
Keadaan itu sudah terjadi selama beberapa pekan ini. Pemerintah setempat belum memiliki anggaran untuk memperbaiki atau membeli lampu pengatur lalu lintas yang baru.
Dalam pengusutan pihak kepolisian, pelaku perusakan lampu lalu lintas itu adalah sekelompok anak muda yang mengendarai sepeda motor atau yang biasa dikenal geng motor. Mereka melakukan aksinya selepas tengah malam saat jalanan sepi dan bebas pantauan pihak kepolisian.
Menurut Kepala Kepolisian Resor (Polres) Palu Ajun Komisaris Besar Polisi Achmad Ramadhan, tidak hanya lampu pengatur lalu lintas saja yang dirusak, pos polisi dan pot-pot bunga di tengah jalan juga dirusak.
Pengendara sepeda motor urakan itu juga menjatuhkan marka pembatas jalan.
"Bahkan ada juga yang nekad melempari rumah dinas saya pada tengah malam," katanya.
Dia menduga para pelaku itu nekad melakukan aksinya karena berada di bawah pengaruh minuman keras atau narkotika.
"Ini harus dihentikan karena pengrusakan rambu-rambu lalu lintas bisa merugikan dan membahayakan masyarakat," katanya.
Sebelumnya, pada pertengan April 2012, pernah dilaporkan juga sekelompok pengendara sepeda motor melempari tempat pencucian motor dan sebuah cafe Internet di Jalan Kartini Palu.
Bahkan, ada yang melempari tempat pencucian motor itu dengan bom molotov namun apinya bisa dipadamkan meski telah melukai seorang yang berada di dalamnya.
"Petugas harus bertindak dan menangkap pelaku," kata Iqbal warga Palu Selatan yang juga mengenal korban.
Menurutnya, adanya gerombolan pengendara sepeda motor yang bersikap ugal-ugalan itu tentu saja mengganggu masyarakat.
Dia merasa khawatir apabila nantinya terjadi aksi main hakim sendiri yang dilakukan oleh masyarakat yang merasa kenyamanannya terusik.
Razia Malam
Untuk mengurangi merebaknya gerombolan pengendara sepeda motor, Kepolisian Resor Palu menggalakkan razia pada tengah malam.
Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Palu AKP Doni Prakoso mengatakan, razia yang dilakukan baru-baru ini berhasil mengamankan 27 sepeda motor di sejumlah lokasi di Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah ini.
Dia mengatakan, sepeda motor yang diamankan itu tidak dilengkapi dengan dokumen sah, sudah mengalami bentuk dari aslinya, serta menggunakan knalpot bersuara bising.
Menurut dia, adanya gerombolan pesepada motor di tengah malam itu juga mengganggu ketenteraman masyarakat saat beristirahat.
Doni mengatakan, pemilik kendaraan roda dua itu bisa mengambil sepeda motornya jika mampu menunjukkan bukti kepemilikan kendaraan bermotor serta surat izin mengemuli.
"Mereka juga harus berjanji tidak berbuat ugal-ugalan lagi di jalanan pada malam hari," katanya.
Dia mengatakan, sebagian besar pemilik sepeda motor itu adalah kaum remaja usia sekolah.
Lebih lanjut Doni mengatakan razia seperti itu akan terus dilakukan oleh Kepolisian Resor Palu karena adanya laporan dari masyarakat tentang adanya kebut-kebutan di jalan pada malam hari yang meresahkan.
Operasi itu tidak hanya bertujuan mencegah munculnya geng motor, tetapi juga mengantisipasi peredaran minuman keras dan narkotika ilegal, premanisme, kepemilikan senjata tajam/senjata api ilegal, serta pencurian kendaraan bermotor.
Baru-baru ini Kepolisian Polres Palu juga mengamankan empat pemuda yang membawa senjata tajam dan busur panah saat mengendarai sepeda motor.
"Untuk apa membawa senjata tajam di tengah malam?," ujarnya mempertanyakan.
Doni berharap Kota Palu aman dari aksi negatif gerombolan pengendara sepeda motor, seperti yang terjadi di Jakarta, Makassar, atau kota-kota besar lainnya.
"Kondisi itu harus diantisipasi agar tidak terjadi di Kota Palu," katanya.
Dia juga berharap orangtua untuk lebih mengawasi anaknya terutama yang menggunakan sepeda motor. "Ini harus menjadi perhatian karena sebagian besar korban kecelakaan lalu lintas yang tewas adalah remaja dan pelajar," kata Doni.
Kelompok pengendara motor ugal-ugalan memang belum marak di Kota Palu mengingat penduduk kota ini baru 310 ribu jiwa yang tersebar di empat kecamatan.
Dengan antisipasi dan bimbingan yang tepat dinilai bisa mengurangi bertambahnya geng motor.
Beberapa waktu sebelumnya Direktorat Lalu Lintas Polda Sulawesi Tengah melakukan sosialisasi tertib lalu lintas kepada pelajar SMA di Kota Palu.
Hal itu bertujuan mengampanyekan tata tertib dan pentingnya menggunakan perlengkapan saat mengendarai sepeda motor bagi pelajar.
Mengingat geng motor di Palu masih minim dan didominasi oleh kaum muda, jadi diharapkan bimbingan serta arahan yang mendidik dari aparat kepolisian.
"Kita selalu siap membina dan membimbing para anggota geng motor agar mereka berkendara dengan tertib, dan malah menjadi contoh yang baik," kata Doni. (R026/Z002)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar